Jumat, 30 Agustus 2013

URIP NING DUNYO IBARAT MAMPIR NGOMBE (SINGGAH SEBENTAR UNTUK MINUM)

Kita Hanyalah Musafir di BumiNya   ?
Dunia ini pinjaman yang harus kau kembalikan
Pesonanya sesaat, fana, dan hanya fatamorgana
Yang berakal takkan terkecoh kilau kemilaunya
Karena ia tahu ada kehidupan abadi disana
Orang beriman tak betah di negeri persinggahan
Karena negeri persinggahan bukanlah tujuan
Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran
  
Wahai yang terlena dalam kenikmatan semu
Melihat kehancuran, kehinaan mengintaimu
Ingatlah kau dengan hari pembalasan
Tak ada yang bisa disembunyikan
Semua perbuatan akan peroleh ganjaran
Sadarlah! Mumpung masih ada kesempatan
Mumpung liang lahat yang sempit belum datang
Terangi makammu dengan kebaikan
  
Bersyukurlah pada ALLAH atas kebesaranNya
Ia begitu dekat, lebih dekat dari urat leher kita
Ia pemberi rejeki seluruh penghuni semesta
Ia hamparkan bumi, langit, udara, laut, dan hujan juga
Demi kebaikan kita, janganlah kau bangkangi Ia
Sungguh, semua orang akan tanggung amalannya..?
 (dikutip dari puisi Ibnu Hazm El Andalusy?Di Bawah Naungan Cinta?)  
  Harus disadari, kenikmatan di dunia hanya bersifat sementara. Bagi yang memperoleh hidayah dariNya, akan menempuh jalan yang diridhaiNya. Mereka menyadari bahwa kenikmatan dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan utama kehidupan, yaitu  akhirat.   urip ning dunyo ibarate mampir ngombe
Sementara bagi yang lalai, kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup. Dan mereka lalai terhadap kewajiban mereka. Dan Rasulullah saw telah bersabda bahwa kehidupan seseorang di dunia tidak lain seperti musafir yang beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum meneruskan perjalanan ke tujuan berikutnya. 
Segala kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH tidak boleh memperdayakan kita. Karena kematian bisa sewaktu-waktu datang tanpa permisi. Kematian bisa datang lebih cepat, namun kematian juga bisa datang tertatih-tatih dan merangkak perlahan. 
Ketika maut menggapai, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi, tak ada tali untuk bergantung, tak ada tembok yang tinggi untuk berlindung. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak pernah malas atau lupa untuk menjemput kita, dimanapun kita. Manusia hanya bisa menunggu saatnya tiba. Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya.
 ?Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang, dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dan dalam kematian yang akan tiba-tiba datang? (Ibnu Mas?ud ra)   Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk kematian yang akan menyapa kita itu? Siapkah kita melihat buku amalan diri kita selama hidup di dunia? Apakah kita sudah merasa cukup menulis banyak amalan kebaikan dalam buku catatan amal kita? Apakah kita sudah merasa siap berjumpa dengan ALLAH membawa senyum kedamaian dan penuh kerinduan akan perjumpaan denganNya? Apakah sudah cukup langkah kita berhenti karena merasa banyak membawa bekal untuk perjalanan ke surga nanti? 
  Mempersiapkan kematian sama saja seperti menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang kita. Karena hidup adalah pilihan, maka tinggal kita pilih saja, hendak mempersiapkan segala sesuatunya dengan persiapan yang matang atau hendak mempersiapkannya dengan santai-santai saja. ALLAH swt telah memberikan perbandingan yang jelas antara kehidupan dunia dan akhirat, dalam firmanNya : ?dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.? (QS. AL-Ankabut : 64)
  Maka, untuk menghadapi kehidupan dunia yang merupakan senda gurau dan main-main ini, diperlukan tuntunan agama yang merupakan petunjuk dariNya, yaitu berupa Al-Qur?an dan hadist Rasulullah saw yang harus dijalankan dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.
Karenanya setiap detik dan menit yang berganti dalam hidup ini sangat berarti sekali bagi orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian. Betapa dirinya takut dan sangat berharap akan cukup atau tidaknya bekal yang dibawanya. Dengan mengingat kematian, maka ia terus menerus berusaha menambah perbekalan agar benar-benar siap menghadapi maut. 
Tak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mengingat kematian. Betapa dirinya sungguh-sungguh jauh dari keterlenaan dunia. Ia selalu berusaha untuk mengingat-ingat sepak terjangnya dan kemudian berusaha menimbang sendiri apakah hari ini sudah dilewati dengan menyisakan amal kebaikan atau malah sebaliknya. Apalagi selalu ada yang mengawasi kita dan tidak pernah tidur walau sekejappun. Ada para malaikat yang setia mengikuti langkah kaki kita dan terus menulis amalan baik dan amalan buruk yang kita kerjakan.  ?Tiada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.? (QS. Qaaf : 18)  
Umar bin Khaththab berkata, ?Timbanglah dirimu sebelum ditimbang, hitung-hitunglah amal perbuatanmu sebelum dihitung, dan bersiap-siaplah untuk menghadapi persidangan yang paling besar, yaitu pada hari kiamat. Pada hari itu tidak akan ada yang tersembunyi darimu walaupun sesuatu yang sangat samar.?
 
ALLAH akan memanggil kita tanpa harus bertanya apakah kita sudah siap atau tidak. ALLAH tidak akan memundurkan waktu kematian kita bilapun kita tidak siap. Karena ALLAH telah memberi kita waktu yang lebih dari cukup untuk berbuat baik dan menyiapkan diri untuk di kampung akhirat. 
 
Maka janganlah menunda kebaikan sekecil apapun. Dunia hanya persinggahan yang hanya kita lewati sekejap mata. Dunia hanya sarana dan jembatan bagi kita untuk menyebrangi tempat menuju kehidupan abadi.
  Ali bin Abi Thalib menulis dalam surat wasiat kepada putranya Al Hassan, ?Dan ketahuilah, engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari darinya. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.?Segala puji bagi ALLAH dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, yang menetapkan kematian atas segala makhlukNya. DIA yang mengadili di akhirat di tengah semua ciptaanNya. Yang mencabut nyawa seseorang setelah mengisi kehidupan dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang menganggap dunia adalah lautan dan menjadikan amal sebagai perahu yang ditumpangi di lautan itu untuk menuju ke tempat persinggahan abadi nanti. 
 
?...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan pada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Berilah  maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami maka tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang kafir.? 
Semoga ALLAH senantiasa mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan membuka pintu maaf yang selebar-lebar. Semoga kita bisa meraih pintu hidayahNya dan terus berusaha menjalankan ibadah dengan bersungguh-sungguh. Tetapkan hati untuk meraih damai bersamaNya..insyaALLAH..
 
Semoga pula dalam hiruk pikuk nya kehidupan dunia ini, kita masih sangat bisa menyempatkan waktu untuk memikirkan urusan surga dan neraka. Perjalanan hidup kita memang tak pernah terduga akan berakhir seperti apa. Semua begitu mengejutkan seperti kehidupan itu sendiri. Maka berusaha untuk terus istiqomah dan meningkatkan ketaqwaan adalah salah satu usaha kita meraih ridho dan pintu maghfirohNya..
 Amiin..Ya Rabbal ?Alamin...
 Dan dalam umur yang sedemikian sempit ini, semoga kita semua bisa terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Karena saat ini pun, kita sedang dikejar kematian. Kita tak bisa lari, apalagi sembunyi

SHOLAT TAUBAT DAN DOA-DOANYA

Shalat Taubat dan Doa-doanya

Shalat Taubat

Shalat Taubat menganjurkan agar pada rakaat pertama membaca QS. Al Kaafiruun [109], lalu di rakaat kedua membaca QS. Al Ikhlash [112].

Mengenai waktu Shalat Taubat adalah kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang diharamkan untuk shalat. Mengenai jumlah rakaatnya adalah 2, 4 dan 6 rakaat dengan salam tiap dua rakaat.

Waktu-waktu yang haram untuk shalat :

“Tegakkanlah shalat shubuh kemudian berhentilah mengerjakan shalat, hinggamatahari terbit dan agak meninggi, karena terbitnya matahari pada waktu itu di antara dua tanduk setan, dan ketika itu [sebagian] orang-orang kafir [penyembah matahari] sujud kepada matahari, kemudian setelah itu kerjakankah sholat, karena sesungguhnya sholat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri [oleh malaikat], hinggahilangnya bayang-bayang pada sebuah tombak, kemudian tahanlah diri dari mengerjakan sholat, karena saat itu neraka jahannam sedang dibakar, kemudian jika telah muncul bayang-bayang maka kerjakanlah sholat [sunnah] karena sesungguhnya sholat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri [oleh malaikat], hingga engkau mengerjakan sholat ashar, kemudian berhentilah mengerjakan sholat sampai matahari benar-benar tenggelam, karena waktu itu tenggelamnya matahari diantara dua tanduk setan, dan pada saat itu orang-orang kafir [penyembah matahari] bersujud menyembah matahari. (Shahih, HR. Muslim)

Kesimpulan waktu-waktu yang haram untuk shalat adalah sbb. :
1. Pk. 06.00 - 07.00 WIB
2. Pk.11.30 - 12.00 WIB (Zhuhur)
3. Pk.17.30 - 18.00 WIB (Maghrib)

Berikut tatacara Shalat Taubat secara ringkas :


2. Membaca niat Shalat Taubat :
"Ushollii sunnatat-taubati rok'ataini lillaahi ta'aalaa. Allaahu akbar."

Artinya :
Aku berniat shalat taubat dua raka'at karena Allah Ta'ala. Allaahu akbar.

3. Lakukan shalat seperti biasa, dengan penuh khusyu dan mata tetap terbuka. Pada rakaat pertama membaca QS. Al Kaafiruun [109] dan pada rakaat kedua membaca QS. Al Ikhlash [112].

4. Banyaklah berdoa mohon ampunan Allah saat bersujud.

Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)

5. Salam.

Doa setelah Shalat Taubat :

Perbanyak Zikir : "Subhanallah wa bihamdih"

Rasulullah Sallallaahu 'Alaihi Wasallam  bersabda : “Barangsiapa mengucapkan 'subhanallah wabihamdih' seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)
"Subhanallah wa biham dih"

Artinya :
Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya
Dosa sebanyak buih di laut bisa diartikan sebagai dosa-dosa kecil yang sangat banyak. Namun dosa-dosa besar tetap ada, dan dosa-dosa besar itu hanya dapat dihapuskan dengan Taubatan Nasuha.

Perbanyak Istighfar :
"Astaghfirullaahal 'azhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih, (taubatan nasuuha), taubata 'abdin zhoolimin laa yamliku linafsihi dhorron wa laa naf'aa wa laa mautan wa laa hayaatan wa laa nusyuuro."

Artinya :
Aku memohon ampun kepada AllahYang Maha Agung, aku mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang hidup terus selalu terjaga. Aku memohon taubat kepada-Nya, (taubat yang sesungguhnya), taubat seorang hamba yang banyak berdosa, yang tidak mempunyai daya untuk berbuat mudhorot atau manfaat, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti. 


"Robbanaa atmim lanaa nuurona waghfirlanaa, innaka 'alaa kulli syai-in qodiir". QS. At-Tahrim [66] : 8

Artinya :

Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Keterangan :
Setiap kali seorang hamba melakukan perbuatan dosa, Allah memberikan tanda noda hitam pada hatinya. Semakin banyak dia mengulangi perbuatan dosanya, maka akan semakin banyak noda hitam (penyakit hati) tersebut. Jika noda tersebut sudah menutupi hatinya maka cahaya Allah; berupa petunjuk, hidayah, dsb. akan sulit masuk ke dalam hati yang sudah tertutup noda tersebut.

Maka seorang hamba yang bertaubat, hendaknya berdoa agar diberikan cahaya bagi hatinya, lalu tidak mengulangi perbuatan dosanya lagi karena arti Taubat adalah; sadar, memohon ampunan Allah dan bertekad tidak mengulangi perbuatan dosanyanya (serta mengembalikan hak orang lain yang sekiranya dia ambil). Berikut sumbernya :

QS. Ali 'Imran [3] : 135
waalladziina idzaa fa 'aluu faahisyatan aw zholamuu anfusahum dzakaruullaaha fastaghfaruu lidzunuubihim wamay-yaghfirudz-dzunuuba illaallaahu walam yushirruu 'alaa maa fa 'aluu wahum ya'lamuun

[3:135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Apa ganjaran orang yang bertaubat ?
QS. Ali 'Imran [3] : 136
ulaa-ika jazaa-uhum maghfiratum-mir-rabbihim wajannaatun tajrii min tahtihaal-anhaaru khoolidiina fiihaa, wani'ma ajrul 'aamiliin.

[3:136] Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulahsebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Jadi ganjaran Allah bagi orang yang bertaubat adalah :
1. Ampunan Allah,
2. Surga (bisa diartikan surga di dunia dan di akherat, diselesaikan segala masalahnya),
3. Kekal di dalam surga,
4. Pahala yang terbaik (menambah timbangan kebaikan).

Perbanyak Membaca Induk Istighfar :


"Allaahumma anta Robbi laa ilaaha illa anta, kholaqtani wa anaa 'abduka, wa anaa 'alaa 'ahdika, wa wa'dika masta-tho'tu, a'uudzubika min syarri maa shona'tu abuu-ulaka bini'matika 'alayya wa abuu-u bi dzambi faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta."



Artinya :

Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku lakukan.


Barangsiapa mengucapkannya (sayyidul istighfar) disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

Wallahu a'lam bish-showwab

ARTI DAN BAHASAN SHOLAT IED

SHOLAT IED (PENGERTIAN DAN BAHASAN) 


1.Pengertian shalat Id
Shalat Id adalah shalat sunnah dua rekaat yang dilaksanakan satu tahun sekali pada dua hari raya yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha, shalat ini dilaksanakan oleh umat Islam untuk menyambut ke dua hari raya sehingga disebut dengan istilah idain artinya dua hari raya.


2.Macam- macam shalat Id
Shalat Id dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri adalah shalah shalat sunnah dua rekaat yang dilakasanakan oleh seluruh umat Islam pada tiap tanggal 1 Syawal. Shalat sunnah dilaksanakan setelah kaum muslimin melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Idul Fitri berasal bahasa Arab yaitu  dari kata Id dan Fitri. Kata Id berarti kembali dan kata Fitri berarti suci atau bersih. Jadi  kata Idul Fitri berarti kembali menjadi suci.
Di Indonesia Hari raya Idul Fitri sudah begitu populer, dan hampir seluruh umat Islam melaksanakan shalat ini, karena Hari Raya idul Fitri dijadikan moment untuk dapat berkumpul dan bersilatur rahmi bersama keluarga  dan seluruh warga kampung.
Hari raya ini begitu istimewa karena juga sebagai hari kemenangan umat Islam setelah melaksanakan puasa satu Ramadlan penuh yang diakhiri dengan pembagian Zakat Fitrah.
Kegiatan beribadah yang berupa shalat Idul Fitri  ini oleh umat Islam di Indonesia kebanyakan di laksanakan di tanah lapang seperti lapangan olah raga, jalan raya dan tanah lapang lainnya. Tetapi kadang-kadang karena hujan ataupun tanah lapang yang tidak memungkinkan  umat Islam melaksankannya di Masjid-masjid.
b.Shalat Idul Adha
Shalat Idul Adha adalah shalat sunnah 2 rekaat yang dilaksanakan ummat Islam setiap tanggal 10 Zulhijjah. Idul Adha berasal dari kata Id dan Adha. Id berarti kembali dan Adha berarti qurban. Jadi kata Idul Adha berarti kembali berqurban, maksudnya kembali melakukan penyembelihan hewan qurban, sehingga dapat disebut juga dengan istilah Idul Qurban. Idul Adha dapat disebut juga dengan istilah Idul Haji karena pada tanggal 10 Zulhijjah tersebut umat Islam yang menunaikan ibadah haji telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji.
Dibanding dengan  Shalat Idul Fitri  yang dilaksanakan di Indonesia Shalat Idul Adha kurang meriah dan tidak diikuti oleh kebanyakan umat Islam di lingkungannnya. Walaupun begitu tidak mengurangi kekhususukan Shalat Id ini.
Rangkaian Shalat Id ini senantiasa dikaitkan dengan penyembelihan hewan Qurban baik sapi, kerbau, maupun kambing  yang dilaksanakan selama 4 hari yaitu tanggal 10 Zulhijjah ( Hari Raya Idul Adha) dan tanggal 11,12,13 Zulhijjah atau juga disebut Hari Tasyrik.


3.Tata cara shalat Idain

Shalat Idain dapat dikerjakan di tanah lapang yang bersih atau di dalam masjid. Sebelum melaksanakan Shalat terlebih dahulu harus suci dari hadas dan najis baik tempat dan badan kita. Selain itu kita harus menutup aurat dan  berpakaian yang suci. Jadi syarat dan rukun Shalat id sama dengan Shalat fardhu yang kita kerjakan 5 kali sehari semalam, yang membedakan adalah niat, jumlah takbir dan waktu pelaksanaannya.

Adapun cara mengerjakannya adalah :
a. Shalat Id terdiri dari dua rakaat
b. Shalat Id sebaiknya dilakukan dengan berjamah,
c. Setelah para jamaah sudah siap, barulah salat dengan aba-aba: ashalaatul jaamia'ah yang artinya marilah kita salat.
d. Niat shalat Id.
e. Takbiratul ihkram.
f. Membaca do'a iftitah.
g.Pada rakaat pertama sesudah niat, takbiratul ihram  kemudian membaca do’a iftitah, selanjutnya takbir 7 kali dan setiap habis takbir disunatkan membaca tasbih.
h.Setelah takbir 7 kali dan membaca tasbih tersebut, kemudian membaca al-Fatihah dan disambung dengan membaca surat yang yang disukai, yang lebih utama ialah membaca surat al-Qof atau surat al-A'la (Sabbihisma Rabbikal a'la)
i.Setelah membaca surat dilanjutkan ruku', I'tidal dan diteruskan sujud dua kali seperti dalam shalat wajib hingga selesai reka'at pertama.
j.Pada reka'at kedua, sesudah berdiri untuk reka'at kedua membaca takbir 5 kali dan setiap takbir disunatkan membaca tasbih. Kemudian membaca al-Fatihah dan dituskan dengan bacaan surat yang kita sukai, yang lebih utama surat al-Ghosyiyah.
k.Dilanjutkan dengan ruku, i’tidal, sujud dua kali, tahiyat akhir dan salam.
l.Setelah selesai shalat Id, khotib melaksanakan khutbah dua kali, pada khutbah pertama membaca takbir 9 kali dan pada khutbah kedua membaca takbir 7 kali.
m.Hendaknya dalam khutbah Idul fitri berisi penerangan zakat fitrah dan pada hari raya Idul Adha berisi penerangan tentang ibadah haji dan hukum kurban. Semua jamaah harus mendengarkan dengan tenang