Kita Hanyalah Musafir di BumiNya ?
Dunia ini pinjaman yang harus kau kembalikan
Pesonanya sesaat, fana, dan hanya fatamorgana
Yang berakal takkan terkecoh kilau kemilaunya
Karena ia tahu ada kehidupan abadi disana
Orang beriman tak betah di negeri persinggahan
Karena negeri persinggahan bukanlah tujuan
Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran
Wahai yang terlena dalam kenikmatan semu
Melihat kehancuran, kehinaan mengintaimu
Ingatlah kau dengan hari pembalasan
Tak ada yang bisa disembunyikan
Semua perbuatan akan peroleh ganjaran
Sadarlah! Mumpung masih ada kesempatan
Mumpung liang lahat yang sempit belum datang
Terangi makammu dengan kebaikan
Bersyukurlah pada ALLAH atas kebesaranNya
Ia begitu dekat, lebih dekat dari urat leher kita
Ia pemberi rejeki seluruh penghuni semesta
Ia hamparkan bumi, langit, udara, laut, dan hujan juga
Demi kebaikan kita, janganlah kau bangkangi Ia
Sungguh, semua orang akan tanggung amalannya..?
(dikutip dari puisi Ibnu Hazm El Andalusy, ?Di Bawah Naungan Cinta?)
Harus disadari, kenikmatan di dunia hanya bersifat sementara. Bagi yang memperoleh hidayah dariNya, akan menempuh jalan yang diridhaiNya. Mereka menyadari bahwa kenikmatan dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan utama kehidupan, yaitu akhirat. urip ning dunyo ibarate mampir ngombe
Sementara bagi yang lalai, kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup. Dan mereka lalai terhadap kewajiban mereka. Dan Rasulullah saw telah bersabda bahwa kehidupan seseorang di dunia tidak lain seperti musafir yang beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum meneruskan perjalanan ke tujuan berikutnya.
Segala kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH tidak boleh memperdayakan kita. Karena kematian bisa sewaktu-waktu datang tanpa permisi. Kematian bisa datang lebih cepat, namun kematian juga bisa datang tertatih-tatih dan merangkak perlahan.
Ketika maut menggapai, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi, tak ada tali untuk bergantung, tak ada tembok yang tinggi untuk berlindung. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak pernah malas atau lupa untuk menjemput kita, dimanapun kita. Manusia hanya bisa menunggu saatnya tiba. Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya.
?Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang, dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dan dalam kematian yang akan tiba-tiba datang? (Ibnu Mas?ud ra) Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk kematian yang akan menyapa kita itu? Siapkah kita melihat buku amalan diri kita selama hidup di dunia? Apakah kita sudah merasa cukup menulis banyak amalan kebaikan dalam buku catatan amal kita? Apakah kita sudah merasa siap berjumpa dengan ALLAH membawa senyum kedamaian dan penuh kerinduan akan perjumpaan denganNya? Apakah sudah cukup langkah kita berhenti karena merasa banyak membawa bekal untuk perjalanan ke surga nanti?
Mempersiapkan kematian sama saja seperti menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang kita. Karena hidup adalah pilihan, maka tinggal kita pilih saja, hendak mempersiapkan segala sesuatunya dengan persiapan yang matang atau hendak mempersiapkannya dengan santai-santai saja. ALLAH swt telah memberikan perbandingan yang jelas antara kehidupan dunia dan akhirat, dalam firmanNya : ?dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.? (QS. AL-Ankabut : 64)
Maka, untuk menghadapi kehidupan dunia yang merupakan senda gurau dan main-main ini, diperlukan tuntunan agama yang merupakan petunjuk dariNya, yaitu berupa Al-Qur?an dan hadist Rasulullah saw yang harus dijalankan dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.
Karenanya setiap detik dan menit yang berganti dalam hidup ini sangat berarti sekali bagi orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian. Betapa dirinya takut dan sangat berharap akan cukup atau tidaknya bekal yang dibawanya. Dengan mengingat kematian, maka ia terus menerus berusaha menambah perbekalan agar benar-benar siap menghadapi maut.
Tak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mengingat kematian. Betapa dirinya sungguh-sungguh jauh dari keterlenaan dunia. Ia selalu berusaha untuk mengingat-ingat sepak terjangnya dan kemudian berusaha menimbang sendiri apakah hari ini sudah dilewati dengan menyisakan amal kebaikan atau malah sebaliknya. Apalagi selalu ada yang mengawasi kita dan tidak pernah tidur walau sekejappun. Ada para malaikat yang setia mengikuti langkah kaki kita dan terus menulis amalan baik dan amalan buruk yang kita kerjakan. ?Tiada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.? (QS. Qaaf : 18)
Umar bin Khaththab berkata, ?Timbanglah dirimu sebelum ditimbang, hitung-hitunglah amal perbuatanmu sebelum dihitung, dan bersiap-siaplah untuk menghadapi persidangan yang paling besar, yaitu pada hari kiamat. Pada hari itu tidak akan ada yang tersembunyi darimu walaupun sesuatu yang sangat samar.?
ALLAH akan memanggil kita tanpa harus bertanya apakah kita sudah siap atau tidak. ALLAH tidak akan memundurkan waktu kematian kita bilapun kita tidak siap. Karena ALLAH telah memberi kita waktu yang lebih dari cukup untuk berbuat baik dan menyiapkan diri untuk di kampung akhirat.
Maka janganlah menunda kebaikan sekecil apapun. Dunia hanya persinggahan yang hanya kita lewati sekejap mata. Dunia hanya sarana dan jembatan bagi kita untuk menyebrangi tempat menuju kehidupan abadi.
Ali bin Abi Thalib menulis dalam surat wasiat kepada putranya Al Hassan, ?Dan ketahuilah, engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari darinya. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.? Segala puji bagi ALLAH dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, yang menetapkan kematian atas segala makhlukNya. DIA yang mengadili di akhirat di tengah semua ciptaanNya. Yang mencabut nyawa seseorang setelah mengisi kehidupan dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang menganggap dunia adalah lautan dan menjadikan amal sebagai perahu yang ditumpangi di lautan itu untuk menuju ke tempat persinggahan abadi nanti.
?...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan pada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Berilah maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami maka tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang kafir.?
Semoga ALLAH senantiasa mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan membuka pintu maaf yang selebar-lebar. Semoga kita bisa meraih pintu hidayahNya dan terus berusaha menjalankan ibadah dengan bersungguh-sungguh. Tetapkan hati untuk meraih damai bersamaNya..insyaALLAH..
Semoga pula dalam hiruk pikuk nya kehidupan dunia ini, kita masih sangat bisa menyempatkan waktu untuk memikirkan urusan surga dan neraka. Perjalanan hidup kita memang tak pernah terduga akan berakhir seperti apa. Semua begitu mengejutkan seperti kehidupan itu sendiri. Maka berusaha untuk terus istiqomah dan meningkatkan ketaqwaan adalah salah satu usaha kita meraih ridho dan pintu maghfirohNya..
Amiin..Ya Rabbal ?Alamin...
Dan dalam umur yang sedemikian sempit ini, semoga kita semua bisa terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Karena saat ini pun, kita sedang dikejar kematian. Kita tak bisa lari, apalagi sembunyi
Pesonanya sesaat, fana, dan hanya fatamorgana
Yang berakal takkan terkecoh kilau kemilaunya
Karena ia tahu ada kehidupan abadi disana
Orang beriman tak betah di negeri persinggahan
Karena negeri persinggahan bukanlah tujuan
Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran
Melihat kehancuran, kehinaan mengintaimu
Ingatlah kau dengan hari pembalasan
Tak ada yang bisa disembunyikan
Semua perbuatan akan peroleh ganjaran
Sadarlah! Mumpung masih ada kesempatan
Mumpung liang lahat yang sempit belum datang
Terangi makammu dengan kebaikan
Ia begitu dekat, lebih dekat dari urat leher kita
Ia pemberi rejeki seluruh penghuni semesta
Ia hamparkan bumi, langit, udara, laut, dan hujan juga
Demi kebaikan kita, janganlah kau bangkangi Ia
Sungguh, semua orang akan tanggung amalannya..?
Sementara bagi yang lalai, kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup. Dan mereka lalai terhadap kewajiban mereka. Dan Rasulullah saw telah bersabda bahwa kehidupan seseorang di dunia tidak lain seperti musafir yang beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum meneruskan perjalanan ke tujuan berikutnya.
Segala kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH tidak boleh memperdayakan kita. Karena kematian bisa sewaktu-waktu datang tanpa permisi. Kematian bisa datang lebih cepat, namun kematian juga bisa datang tertatih-tatih dan merangkak perlahan.
Ketika maut menggapai, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi, tak ada tali untuk bergantung, tak ada tembok yang tinggi untuk berlindung. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak pernah malas atau lupa untuk menjemput kita, dimanapun kita. Manusia hanya bisa menunggu saatnya tiba. Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya.
Tak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mengingat kematian. Betapa dirinya sungguh-sungguh jauh dari keterlenaan dunia. Ia selalu berusaha untuk mengingat-ingat sepak terjangnya dan kemudian berusaha menimbang sendiri apakah hari ini sudah dilewati dengan menyisakan amal kebaikan atau malah sebaliknya. Apalagi selalu ada yang mengawasi kita dan tidak pernah tidur walau sekejappun. Ada para malaikat yang setia mengikuti langkah kaki kita dan terus menulis amalan baik dan amalan buruk yang kita kerjakan.
Umar bin Khaththab berkata, ?Timbanglah dirimu sebelum ditimbang, hitung-hitunglah amal perbuatanmu sebelum dihitung, dan bersiap-siaplah untuk menghadapi persidangan yang paling besar, yaitu pada hari kiamat. Pada hari itu tidak akan ada yang tersembunyi darimu walaupun sesuatu yang sangat samar.?
Ali bin Abi Thalib menulis dalam surat wasiat kepada putranya Al Hassan, ?Dan ketahuilah, engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari darinya. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.?
Semoga ALLAH senantiasa mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan membuka pintu maaf yang selebar-lebar. Semoga kita bisa meraih pintu hidayahNya dan terus berusaha menjalankan ibadah dengan bersungguh-sungguh. Tetapkan hati untuk meraih damai bersamaNya..insyaALLAH..